Minggu, 13 Agustus 2017

The Power of R.A. Kartini






Raden Ajeng Kartini. Siapa si yang tidak kenal dengan sosok pahlawan emansipasi wanita ini? Jika tidak, bacalah Inspiring Story saya tentang Raden Ajeng Kartini.


Raden Ajeng Kartini, beliau lahir pada tanggal 21 April tahun 1879 di Kota Jepara, Hari kelahirannya itu kemudian diperingati sebagai Hari Kartini untuk menghormati jasa-jasanya pada bangsa Indonesia. 

Kartini dianggap sebagai tokoh wanita yang mem
perjuangkan hak-hak wanita dengan surat menyurat yang dilakukannya, yang dikumpulkan dalam buku “Habis Gelap Terbitlah Terang”. Ide dan pemikiran Kartini tersebut bagi saya dan sebagian orang menjadi inspirasi untuk mengangkat derajat wanita bagi bangsa Indonesia.

Di masa Penjajahan Belanda, kita tahu wanita dilarang sekolah, wanita hanya di rumah saja melakukan pekerjaan rumah, Dari pagi, siang sampai malam. Menyiapkan sarapan, belanja, memasak, membersihkan rumah, menyuci, mengosok pakaian, memandikan anak, bahkan tak jarang harus ke lading atau bekerja mencari nafkah. 

Kalau sudah begini, pasti seorang  wanita sulit untuk bisa melihat dunia luar, membangun dirinya. Namun Kartini bisa keluar dari belenggu ini, karena Kartini terlahir dalam keluarga sangat beruntung. Karena ayahnya adalah seorang bangsawan di kota Jepara, Jawa Tengah. Walau saat itu sangat langka wanita mengenal sekolah. 

Tapi Kartini  kecil berhasil menyelesaikan sekolah dasar. Lalu mengumpulkan buku-buku pelajaran dan ilmu pengetahuan. Ia gemar membaca. Dan membaca menjadi jendela baginya untuk melihat keluar dan melepaskan diri dari belenggu dunia klasik wanita yang sering kita dengar. Eksistensi Kartini pada zaman itu memang patut diacungi jempol karena ia memiliki semangat yang kuat untuk memudarkan adat istiadat di masa lalu, yakni semua kaum wanita hanya diperbolehkan beraktivitas di rumah, sibuk di dapur atau pun melayani laki-laki yang kelak akan menjadi suaminya. Kartini yang dulu merupakan keturunan bangsawan pun, tak bisa berbuat apa-apa ketika iadi jodohkan oleh seorang lelaki pilihan orang tuanya, Raden Adipati Joyodiningrat.

Beruntunglah Kartini, suaminya yang juga berasal dari keluarga bangsawan ini ternyata mendukung berbagai ide dan cita-cita untuk meningkatkan derajat dan martabat kaum wanita kala itu. Salah satu perjuangannya yang dapat direalisasikan untuk mewujudkan cita-cita para wanita kala itu adalah berdirinya sekolah wanita yang diberi nama “Sekolah Kartini”. Sekolah wanita yang tersebar di beberapa daerah di Indonesia seperti Semarang, Surabaya, Yogyakarta, Malang, Madiun, Cirebon dan daerah lainnya adalah hasil kerja kerasnya untuk memajukan wanita Indonesia. 

Kemajuan Berpikir wanita Belanda saat itu menjadi inspirasi kuat bagi Kartini untuk mengubah kultur ‘wanita terbelakang’ menjadi ‘wanita maju’ bagi seluruh kaum wanita di Indonesia. Namun sangat disayangkan, perjuangan wanita gigih ini terhenti karena ia meninggal saat melahirkan putra pertamanya tanggal 17 september 1904. 

Walaupun begitu, tokoh emansipasi wanita yang satu ini telah menjadi legenda dan patut dikenang sepanjang masa.Walau kisah kehidupan Kartini sendiri termasuk singkat, namun pengaruhnya bagi wanita saat ini tetap dikenang.


Disini saya terinspirasi dari beberapa quotes / kata bijak dari R.A Kartini yaitu
1.      Teruslah bermimpi, teruslah bermimpi, bermimpilah selama kau dapat bermimpi! Bila tiada bermimpi, apakah jadinya hidup! Kehidupan yang sebenarnya kejam”. - R. A. Kartini.
Yang bermakna teruslah bermimpi dan bermimpi untuk kehidupan yang lebih baik dan bahagia selagi kau bisa bermimpi sesungguhnya kehidupan yang sebenarnya sangatlah kejam.  

2.      “Dan biarpun saya tiada beruntung sampai keujung jalanitu, meskipun patah di tengah jalan, saya akan mati dengan merasa berbahagia, karena jalannya sudah terbuka dan saya ada turut membantu mengadakan jalan yang menuju ketempat perempuan Bumi putra merdeka dan berdiri sendiri.” - R. A. Kartini
Wanita yang mampu berdiri sendiri dan mandiri setidaknya bisa merasakan hidup bahagia yang tiada duanya. Meski begitu, berdiri sendiri bukan berarti ia harus berjuang sendiri. Kodratnya, wanita tetap membutuhkan pria untuk melewati hari bahagia yang lebih sempurna, dan begitu juga sebaliknya.